Sabtu, 26 Maret 2011

Initial D

initial_d_wallpaper_1024_x_768Initial D (bahasa Jepang: 頭文字D) adalah sebuah manga dan anime karya Shuichi Shigeno yang menceritakan tentang kisah balap mobil oleh seorang anak penjual tahu yang bernama Takumi Fujiwara (harap bedakan dengan tokoh bernama sama dalam manga Dear Boys). Ia sangat berbakat melakukan balapan drift menuruni gunung Akina yang terletak di Prefektur Gunma, Jepang. Anime ini juga sudah diadaptasi ke layar lebar oleh sineas Hong Kong pada tahun 2004 dengan alur cerita yang tidak jauh berbeda.
Filmnya terbilang tidak mengecewakan karena didukung oleh pemain-pemain film terkenal, seperti Jay Chou, Anthony Wong, dan Edison Chen. Isi dari film ini sangatlah menarik karena banyak adegan balap mobil yang mengambil lintasan di kawasan pegunungan. Tokoh utama, Takumi Fujiwara, diperankan Jay Chou, sedangkan ayahnya yang bernama Bunta Fujiwara diperankan oleh Anthony Wong. Suatu hari, ada tim balap lain yang menantang tim balap lokal Akina, Akina SpeedStars. Akan tetapi, pimpinan SpeedStars, Itsuki (diperankan oleh Chapman To), tidak dapat mengalahkan salah satu anggota tim Miyogi Night Kids, Takeshi Nakazato, yang diperankan oleh Shawn Yue. Akhirnya, ayah Itsuki mengirim Takumi untuk melawan tim tersebut. Takumi yang masih duduk di SMA tahun kedua itu pun dapat dengan mudah mengalahkan Nakazato dengan mengendarai mobil tipe GT-R. Dari situlah, perubahan-perubahan pada kehidupan Takumi dimulai.
Bedanya, dalam versi manga, yang pertama kali melawan Takumi adalah Takahashi bersaudara dari tim Red Sun. Mereka mengendarai mobil tipe FC yang telah dimodifikasi dengan setelan yang cocok untuk digunakan berlomba di jalanan pegunungan Akina. Dalam cerita itu, banyak orang yang menduga bahwa lomba tersebut dapat dimenangkan dengan mudah oleh Takeshi bersaudara. Akan tetapi, dugaan tersebut dapat dipatahkan oleh Takumi dengan menempel ketat Takahashi (adiknya) yang menggunakan mobil Mazda FD3S. Walaupun Takumi kalah dalam adu sprint di lintasan lurus, tetapi ia mampu berada persis di belakang Takeshi saat menikung. Penonton pun dibuat tersentak ketika Takumi mengeluarkan segala daya upayanya dengan menyalip Takahashi pada tikungan terakhir. Pada akhirnya, Takumi yang menggunakan mobil tua tipe AE86 milik ayahnya pun mampu finish di urutan terdepan.
Initial D First Stage
Dalam manga seri pertama ini, Takumi dikisahkan sebagai seorang pemuda pengantar tahu yang dikenal sangat menguasai jalanan pegunungan di Akina। Didukung kemampuannya itulah, suatu saat ia berhasil mengalahkan Nakazato yang mengendarai Nissan Skyline GT-R. Tim balap lokal, Akina Speedstars tertarik dengan kemampuannya sehingga mereka merekrut Takumi yang sebelumnya juga bekerja sebagai petugas pompa bensin milik Akina Speedstars. Setelah mulai terkenal, banyak tim balap lain yang menantang Takumi untuk beradu kecepatan di lintasan pegunungan di Akina. Di akhir cerita, Takumi beradu cepat melawan Ryosuke Takahashi, kakak Kyosuke Takahasi. Balapan dikisahkan sangat sengit, tetapi Takumi akhirnya berhasil menang di menit-menit terakhir.
sumber anime1019.wordpress.com

Anime air gear


[size=large]Ready for some action ? [/size]
Title Air Gear
Official Site http://www.toei-anim.co.jp/tv/airgear/
Category TV
Total Episodes -
Genres Action, School Life, Sports
Year Published 2006
Release Date 2006-04-04
User Rating 7.7/10.0 (15 reviews) (Statistic)

Deskripsi
Diangkat dari judul manga yang sama, ( dengan cerita yang lebih dikembangkan dan diperluas dibanding animenya ), Airgear bercerita tentang kisah seorang Ikki yang memiliki hobi Inline Skate, dan memiliki impian untuk terbang di udara menggunakan skatenya ini. Inline Skate ini dapat di customized, dan bahkan memiliki mesin, dan tiap-tiap pengendara memiliki keahlian khusus. Bersama dengan teman masa kecilnya, Ringo, dimulailah sang legenda the King of Air ini.
Skate [AT]: High-motorpowered rollerblades yang membuat pemakainya dapat melakukan gerakan akrobatik di udara dan bahkan berjalan menempel tembok.
Taken from Animenfo.com

Senin, 21 Maret 2011

Membaca Intensif


qYang dimaksud dengan membaca intensif atau intensif reading adalah. studi seksama, telaah teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari.
qKuesioner, latihan pola-pola kalimat, latihan kosa kata, telaah kata-kata, dikte dan diskusi umum merupakan bagian dari teknik membaca intensif.
qTeks-teks bacaan yang benar-benar sesuai dengan maksud ini haruslah dipilih oleh sang guru, baik dari segi bentuk maupun dari segi isinya.
qMembaca intensif bukanlah hakekat keterampilan-keterampilan yang terlihat yang paling diutamaan atau yang paling menarik perhatian kita, tetapi hasil-hasilnya.; dalam hal ini suatu pengertian, suatu pemahaman yang mendalam serta terperinci terhadap tanda-tanda hitam atau aksara di atas kertas.

Klasifikasi Membaca Intensif
(1) Membaca telaah isi (content study
reading)
(2) Membaca telaah bahasa (linguistic
study reading).
1.    Membaca Telaah Isi
qTujuan membaca telaah isi adalah untuk memperoleh sukses dalam memahami argumen-argumen yang logis, urutan-urutan retoris atau pola-pola teks, pola-pola simbolisnya; nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang, dan juga sarana-sarana linguistik yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.
qBiasanya bahan untuk pemahaman atau telaah isi secara terperinci ini berupa teks yang amat singkat. Membaca intensif hakekatnya memerlukan teks yang panjangnya tidak lebih dari 500 patah kata ( yang dapat dibaca dalam jangka waktu dua menit dengan kecepatan kira-kira 5 patah kata dalam satu detik).
qKecepatan membaca akan menurun kalau kedalaman serta keterperincian pemahaman semakin bertambah, semakin meningkat. Tetapi jangan pula kita lupakan bahwa ada faktor-faktor yang lain yang turut campur dalam hal ini. Salah satu faktor tersebut adalah kejelasan teks itu sendiri. Faktor yang lainnya lagi adalah pengenalan pembaca terhadap isi bacaan.
Membaca Telaah Isi
qMembaca telaah isi ini menuntut pembaca untuk terampil menelaah isi bacaan secara mendalam. Jadi membaca telaah isi suatu bacaan mnenuntut ketelitian, pamahan, kekritisan berfikit, serta keterampilan menangkap ide-ide yang tersirat dalam bahan bacaan.
qMembaca telaah isi dapat kita bagi atas: a) membaca teliti, b) membaca pemahaman, c) mambaca ktitis, dan d) membaca ide.




2.    Membaca Telaah Bahasa
•Tujuan:
vMemperbesar daya kata (increasing word power).
vMengembangkan kosa kata (developing vocabulary).



Beberapa Hal dalam Membaca Telaah Bahasa

Ragam-ragam Bahasa
qBahasa formal atau bahasa resmi adalah bahasa yang dipakai pada saat-saat resmi oleh orang-orang yang dianggap mempergunakan bahasa yang terbaik; misalnya pidato kenegaraan, kuliah di perguruan tinggi, tajuk rencana Koran terkenal, esei dan kritik sastra, tulisan-tulisan akademis, tesis, disertasi, buku-buku pegangan, khotbah-khotbah resmi.
qBahasa informal atau bahasa tidak resmi adalah bahasa yang dipakai pada situasi-situasi tidak resmi. Lebih benyak dipakai secara lisan daripada secara tulisan, misalnya bahasa-bahasa yang kita pakai dalam lingkungan keluarga, bercakap-cakap dengan teman-teman, bahasa surat-surat antara orang-orang dengan teman-teman baik, dalam buku harian.
qBahasa formal dan bahasa informal ini diklasifikasikan sebagai bahasa standard atau bahasa baku

Bahasa percakapan atau colloquial language adalah bahasa yang umum dipakai dalam percakapan, bahasa yang telah biasa kita pakai dalam percakapan, bahasa yang telah biasa kita pakai semenjak kecil. Oleh karena marupakan bahasa lisan, maka banyak kalimat yang singkat-singkat, beberapa di antaranya bersifat fragment secara ketatabahasaan tidak lengkap.
qBahasa kasar atau vulgar language disebut juga bahasa yang tidak baku atau bahasa orang yang buta huruf, bahasa orang yang tidak berpendidikan. Kasar atau vulgar di sini tidak berarti atau mengarah kepada ketidaksenonohan yang kasar; vulgar bermakna “menyangkut orang banyak ayau vilgus.”
qBahasa teknis atau technical language adalah bahasa yang dipakai pada profesi-profesi tertentu (dokter, hakim, insinyur, dll.) yang telah mengembangkan kosa kata sendiri, ekspresi-ekspresi yang secara cepat dan efisien menyetatakan kebutuhan mereka satu sama lain (Albert [et al], 1961 dan Barrett, 1956 dari Tarigan (1983:122).




Carpon: Tukang Kembang


Utamana Inggit nu ngarasa leungiteun téh, kawantu pangdipikanyaahna. Geus dianggap incuna sorangan. Kabeneran ampir Saumur jeung rék sarimbag jeung incuna sorangan. Unggal di Aki mulang ke lemburna, balikna deui téh kudu baé aya oleh-oleh husus keur Inggit.
Terutama inggit yang merasa kehilangan itu, sangat disayang. Sudah dianggap cucunya sendiri. Kebetulan hampir seumuran dan mirip dengan cucunya sendiri. Setiap si Kakek pulang ke kampungnya, pulangnya lagi harus saja ada oleh-oleh khusus untuk Inggit
Saréréa. Saimah-imah. Pa Gumbira, apana inggit. Bu Gumbira, indungna. Nya kitu deui adi jeung lanceukna, Ikbal katut Jatnika, sarua ngarasa leungiteun. Ngan ku sabab raketna pisan jeung Inggit, manéhnamah leuwih-leuwih asa leungitanana téh.
Semuanya, serumah-rumah. Pak Gumbira, bapaknya inggit. Bu Gumbira ibunya inggit begitu juga dengan adik dan kakaknya, Ikbal dan Jatnika, sama merasa kehilangan. Namun karena dekatnya dengan Inggit, mereka lebih-lebih merasa kehilanga.
“Naha Si Aki téh teu aya baé?” ceuk Inggit ka mamahna, siga rék sahinghingeun ceurik.
“Kenapa Si Aki tak ada juga??” kata Inggit ke mamanya, seperti akan menangis.
“Nya éta mah. Mamah ogé meni asa beuheung sosonggeteun, sono hoyong pendak sareng Si Aki,” walerna.
“Ya itu. Mama juga tidak tahu, sudah kangen ingin bertemu dengan Si Aki,” jawabnya.
“Boa teu damang?” ceuk Jatnika.
“Takutnya sakit?” kata Jatinika.
“Panginten….,” saut Bu Gumbira deui.
“Mungkin…,” jawab bu Gumbira lagi.
“Euleuh, kumaha atuh Mah?” Inggit beuki ngarasa hariwang.
“Aduh, bagaimana Mah? Inggit terus merasa khawatir.
“Kumaha upami urang longok, sakantenan amengan ka Situ Panjalu?” Si Bungsu Ikbal usul.
“Bagaimana jika kita tengok, sekalian main ke Situ Panjalu?” Si bungsu Ikbal usul.
“Leres Pa,” Inggit jol satuju.
“Betul Pa,” Inggi langsung setuju.
Nu dimaksud Si Aki ku saréréa téh, tukang kembang langganan Bu Gumbira jeung Inggit. Tina sering balanja kembang ti Si Aki, laun-laun jadi asa jeung baraya. Mana komo sanggeus Si Aki Tukang Kembang, siga nu nyaaheun pisan ka Inggit. Malah pok deui-pok deui nyebutkeun, asa ka incu sorangan. Atuh beuki asa jeung baraya baé.
Yang dimaksud oleh Si Aki semuanya itu, Tukang kembang langganan Bu Gumbira dan Inggit. Karena sering belanja kembang dari Si Aki, lama kelamaan merasa seperti dengan saudara.
Ampir saban poé, rék dibeulian rék henteu, kudu baé ngahajakeun eureun. Basana téh hayang panggih jeung incu. Nya kitu deui Bu Gumbira, rék ngagaleuh rék henteu, kedah baé miwarang lirén. Puguh deui Inggit mah, sirikna teu ngahajakeun megat di buruan.
Hampir setiap hari, mau dibeli atau tidak, harus sengaja berhenti. Bilangnya ingin bertemu dengan cucu. Bebitu juga dengan Bu Gumbira, mau membeli mau tidak harus menyuruh berhenti. Apalagi Inggitm biasanya sengaja menunggu di halaman.
Biasana samulangna Si Aki ngrilingkeun dagangan. Da tara ka mana deui jalanna, boh inditna, boh balikna, pasti ngaliwat ka hareupeun imah Inggit.
Biasanya sepulangnnya Si Aki mengelilingkan dagangan. Tidak akan jauh jalannya, baik berangkatnya ataupun pulangnya, pasti lewak ke depan rumah Inggit.
Urang panjalu Si Aki téh. Ngaran aslina mah Abdul Manap. Ti keur ngora kénéh geus bubuara ka Bandung. Asalna tukang minyak tanah. Ditanggung maké salang jeung rancatan. Ka béh dieu ganti ngajual kembang.
Orang Panjalu Si Aki itu. Nama aslinya Abdul Manap. Semenjak muda sudah mengembara ke Bandung. Asalnya tukang minyak tanah. Ditanggung menggunakan salang dan rancatan. Ke sananya lagi gantian berjualan kembang.
Sabulan atawa dua bulan sakali sok mulang ka lemburna. Ku sabab geus teu asa jeung jiga téa, ku bu gumbira sering dibahanan oléh-oléh, bawaeun ka lemburna. Aya gula, kopi, sirop, kuéh kaléng, sakepeung pakéan urut keur babasah. Anu tara tara téh ngongkosan, lantaran keukeuh tara ditarima.
Sebulan atau dua bulan sekali suka pulang lagi ke kampungnya. Oleh karena itu, sudah tidak canggung lagi, oleh bu Gumbira sering diberi oleh-oleh, untuk dibawa ke kampungnnya. Ada gula, kopi, sirop, kueh kaleng, kadang kadang ada pakaian bekas untuk ganti. Yang tidak itu memberi ongkos, karena tetap tidak diterima.
Nya kitu deui Si Aki, unggal mulang ti lemburna, tara léngoh. Tampolanana ari keur usum panén mah, sok ngirim béas sagala. Tangtu baé lian ti oléh-oleh husus, keur incu kadeudeuh, Inggit téa. Biasana bungbuahan, manggu, sawo, pisitan, atawa kadongdong. Kumaha usum-usuman baé.
“Begitu juga dengan Si Aki, setiap pulang dari kampungnnya, pasti membawa oleh-oleh. Biasanya jika sedang musim panen, suka membawa beras segala. Tentu saja selain oleh-oleh khusus untuk cucu tersayang, Inggit saja. Biasanya buah-buahan, manggis, sawo, duku, atau kedondong. Bagaimana musim-musimnya saja.
Nu dimaksud oleh-oleh khusus keur inggit teh, sabenerna ukur babasan. Sabab dina prakna mah keur saréréa. Kawantu sakali ngirim téh pasti tara kurang ti sakarinjing gede.
Yang dimaksud oleh-oleh khusus untuk Inggit itu, sebenarnya hanya formalitas. Sebab pada praktiknya untuk semua. Biasanya sekali ngirim itu pasti tidak kurang dari sekeranjang besar.
Tapi geus dua bulan leuwih, ti saprak Si Aki bébéja rek ngalongok lemburna, tacan balik-balik deui. Tungtungna Pa Gumbira nyatujuan kana usul Si Bungsu Ikbal. Upama sabaulan deui Si Aki tetep ngampeleng, sakalian jalan-jalan, rék ngahajakeun dilongok. Kabeneran Si Aki mindeng nyaritakeun ngaran lemburna. Teu pati jauh ti kota kecamatan cenah.
Tapi sudah dua bulan lebih, dari semenjak Si Aki bilang ingin menjenguk kampungnya, belum balik-balik lagi. Akhirnya Pa Gumbira menyetyjui terhadap usulnya Si Bungsu Ikbal. Jikalau sebulan lagi Si Aki tetap tidak kembali, sekalian jalan jalan akan sengaja ditengok. Kebetulan Si Aki sering menceritakan nama kampungnya. Tidak jauh dari kota kecamatan.
“Enya upami sasih payun Si aki angger ngampleng, sakalian jalan-jalan, urang longok. Urang uah-uih baé. Ti dieu Ahad enjing-enjing, pasosonten mulih” sauh Pa Gumbira ka barudak.
“Iyah jika bulan depan Si Aki tetap tidak kembali, sekalian jalan-jalan, kita tengok. Bolak-balik saja. Dari sini minggu pagi-pagi, sore-sore pulang” kata Pak Gumbira ke anak-anak.
“Sakantenan ntobian mobil anyar deuih,” ceuk Jatnika.
“Sekalian mencoba mobil baru lagi,”
Nembe ngagaleuh mobil apan Pa Gumbira téh. Mobil tilas, sedan alit. Tapi najan tilas, henteu kolot-kolot teuing.
“Baru membeli mobil Pa Gumbira itu. Mobil bekan, sedan bekas. Namun walau bekas, tidak terlalu tua.
Naha atuh ari pitilupoéun deui kana jung, kira-kira jam hiji beurang , ujug-ujug reg aya mobil alus pisan, lirén payuneun Pa Gumbira. Harita di imah téh kakara aya Inggit jeung Ikbal, lian ti Bu Gumbira téh. Henteu kungsi lila kurunyung Jatnika. Rada jauh sakolana Jatnika mah. Sedengkeun Pa Gumbira, teu acan mulih ti kantorna. Biasana tabuh stengah lima, nembé dugi ka bumina.
Tiga hari sebelum keberangkatan, kira-kira jam saru siang, tiba-tiba berhenti sebuah mobil yang bagus, berhenti di Pa Gumbira. Aritnya di rumah itu baru ada Inggit dan Ikbal, selain dari Bu Gubira. Tak lama kemudian datanglah Jatnika. Agak jauh sekolahnya Jatnika itu. Sedangkan Pa Gumbira belum pulang dari kantornya. Biasanya setengah lima , baru sampai ke rumahnya.
Sangkaan saréréa, paling-paling bade naroskeun alamat. Pédah kabeneran keur araya di tepas. Da teu terang téa, saha jeung urang mana éta jalmi téh. Ngan pasti lain jelema sagawayah. Tina dangdanan jeung mobilna ogé katara jalma aya.
Dugaan semuanya, paling-paling juga akan menanyakan alamat. Karena kebetulan sedang ada di teras rumah. Karena tidak tahu, siapa dan orang mana orang itu. Namun pasti bukan orang sembarangan. Dari dandanan dan mobilnya saja kelihatan orang berada.
Ari pék si tatamu téh, ngahaja niat nepangan Pa Gumbira sakulawarga. Waktos diuningakeun Pa Gumbira masih kénéh aya di kantor, walerna téh, “Sawios bade diantosan baé,” cenah.
Ternyata si tamu, sengaja berniat bertemu Pa Gumbira sekeluarga. Waktu diberi tahu Pa Gumbira masih ada di kantor, jawabnya itu, “Biarkan saja nanti ditunggu saja katanya.
Atuh Bu Gumbita téh kacida bingungna. Margi kana waktosna Pa Gumbira mulih téh masih kénéh lami. Beui bingung lantara si tamu ngaléos, ninggalkeun pribumi. Tuluy rurusuhan muru mobil sarta mukakeun panto Beulah tukang.
Bu Gumbira  sangatlah bingung. Karena waktunya Pa Gumbira pulang itu masih lama. Semakin bingung karena si tamu pergi, meninggalkan tuan rumah. Lalu buru-buru menuju ke mobil dan membuka pintu sebelah belakang.
Asalna saréréa bingung campur atoh, barang ti jero mobil kaluar Si Aki. Bajuna henteu saperti keur dagang kembang. Ayeunamah beresih jeung alus. Nya kitu deuih kulitna. Henteu hideung saperti saméméhna.
Pada mulanya semuanya bingung bercampur gembira, ketika dari dalam mobil keluas Si Aki. Bajunya tidak seperti sedang dagang kembang. Sekarang beresih dan bagus. Begitu juga dengan kulitnya. Tidak seperti sebelumnya.
“Aki…..!” cenah” Inggit lumpat muru Si Aki. Gabrug duanana silih rangkul.
“Aki….! katanya” Inggit berlari menuju Si Kakek. Keduanya saling merangkul.
Geus karuhan kitu mah, Pa Gumbira teras diwartosan aya Si Aki.
Sudah tentu begitu, Pa Gumbira lalu diberitahu ada Si Aki.
Saha saleresna si tatamu téh? Singhoréng  putra Si Aki pangageungna. Anu majar salah saurang putra Si Aki pangageungna. Anu majar salahsaurang putrana, ampir sarimbag jeung Inggit. Ari pangna ngahaja nepangan, lian ti ngawartosan Si Aki téh moal dagang  kembang deui. Margi diwagel ku putra-putrana.
Siapa sebenarnya tamu tersebut? Ternyata anaknya Si Kakek yang paling besar. Yang katanya salah seorang anak Si Aki paling besar. Yang katanya salah seorang anaknya, hampir sewajah dengan Iggit. Sebab sengaja bertemu, selain dari memberitahu Si Aki tidak dagang lagi. Karena dilarang oleh anak-anaknya.
Tapi sakali-kalieun, pasti nganjang ka bumi Pa Gumbira. Utamana upama sono ka Inggit. Nya kitu deuih, Pa Gumbira sakulawargi, kedah sering ngalongok Si Aki di lembur.
Tapi sekali-kali, pasti berkunjung ke rumah Pa Gumbira. Utamanya jika kangen kepada Inggit. Begitu juga dengan Pa Gumbira sekeluarga, harus sering menengok Si Aki di kampung.
Teu sangka nya, Si Aki tukang nyunyurung roda kembang téh, putra-putrana maraju. Di antarana nu natamu ka Pa Gumbira. Kagungan pabrik beusi sagala, cenah, anjeunna téh.
Tidak sangka yah, Si Aki tukang mendorong roda kembang itu, anak-anaknya maju. Di antaranya yang bertamu ke Pak Gumbira. Punya pabrik besi segala katanya, dia itu.